Thursday, December 3, 2009

ABOUT LOVE “Ivy!!!” Aku menoleh riang, melihat siapa yang memanggilku, itu Xeffyr...orang yang paling aku sayangi^^, aku segera menghampirinya dan memeluknya. “wow, kau sangat bersemangat hari ini Ivy!” Kusandarkan kepalaku pada dadanya, tersenyum, dalam hati aku berkata, kamulah yang selalu membuatku bersemangat. Xeffyr membuka kotak bekalnya, sandwich. Seketika aku merasa sangat lapar... “aku tau kau kan suka ini...” Di baginya roti isi yang amat menggiurkan itu, deiberikanya separo padaku, aku segera memakannya... kami menikmati roti isi itu bersama, di Western Oakley park, taman paling indah di kota ini, dan merupakan taman favorit kita berdua. “aku ingin terus menghabiskan waktu bersamamu seperti ini...” Ada rasa sakit yang tak mengenakkan di dada ku, entah apa itu? Padahal aku tak ingat jatuh saat berjalan-jalan berkeliling taman ini,,, “tapi,, penyakit ini...” lanjutnya ‘sudahlah, aku tak mau mendengarnya’ kataku pahit “ada apa?” tanyanya padaku ‘bisakah kau nikmati saja hidupmu sekarang? Itu lebih baik....’ Dia lalu tersenyum, begitu manisnya,,, “aku selalu senang untuk menghabiskan waktu seperti ini bersamamu, Ivy” ‘aku juga...’ Dia lalu mengelus kepalaku, rasa bahagia ini tak dapat kutahan. Xeffyr, adalah anak SMA terbaik di kotaku, dia berasal dari keluarga berasal dari keluarga yang cukup terpandang, dan hidupnya selalu terjamin. Kekayaan keluarga tak membuatnya tinggi hati, terlihat dari caranya menyikapi setiap orang yang dia kenal, termasuk aku, tak kusangka dia ingin bertemandenganku. Sayang dia mengidap penyakit, entah apa namanya, aku kurang paham masalah mereka, namun hidupnya tak lama lagi, itu membuatku sedih, tak ingin aku kehilangan dirinya sebelum kuungkapkan perasaanku ini. Tapi, bagaimana caranya? Aku sudah memikirkan hal itu berbulan-bulan sejak aku mengenalnya, dan tak pernah kutemukan cara yang tepat untuk menyampaikan hal itu, lagipula, apakah dia akan menerimanya? Atau setelah aku memberitahukan perasaanku ddia akan menjauhiku? Menganggap aku terlalu banyak berharap, karena rupanya aku tak lebih dari teman baginya, tidak! Aku tak mau kalau sampai itu terjadi, paling tidak sekarang ini aku bahagia menjalani hari-hari bersamanya, dan tak akan kuhancurkan kebahagiaan itu.     “apa kau suka?” ‘tentu saja!!’ seruku girang “jadi kau menyukainya? Bagus kalau begitu!” Tebak apa? Xeffyr memberiku kalung, dan kalung ini adalah kalung terindah yang pernah kulihat, aku suka sekali memakainya dan tak akan kuhilangkan, kan kujaga baik-baik kalung ini, layaknya perasaanku padanya... Sejujurnya aku juga ingin sekali memberikan sesuatu yang berarti baginya, tapi apa yang bisa kuberikan? Tak ada sepertinya, dia pasti sudah memiliki segala-galanya. Aku benci, benci pada diriku sendiri, sampah! Begitu pesimisnya aku menghadapi segala hal, tak pernah mencoba. Sebagian dari diriku yang lain selalu membenarkan tindakanku ini, bukankah dengan begini aku selalu berada pada posisi aman, tak berisiko. Entahlah, aku selalu menghindari jika jiwa-jiwaku mulai mendiskusikannya....     Sudah seminggu ini aku tidak bertemu dengan Xeffyr, dia tak datang. Hal ini mulai membuatku khawatir, apakah ia sudah melupakanku? Atau ada gadis lain yang selalu menemaninya, lebih cantik, menarik dan tentu saja, sederajat dengannya... aku merasa sakit, bagaimana kalau itu terjadi? Aku harus bagaimana,? Sementara aku dipusingkan masalah aku mendengar suranya memanggilku, begitu lirih. Aku menoleh dan terkejut mendapatinya berdiri di belakangku, dia tersenyum, sama manisnya seperti setiap kali ia memberikan senyum itu padaku, dan selalu seperti itu. Xeffyr terlihat kuyu, mukanya pucat dan badannya kurus kering. Aku menyadari suatu hal, sepertinya penyakitnya kambuh, maka itu dia tak datang selama seminggu ini. Aku merasa bodoh sudah berpikir yang tidak-tidak. “maaf ya, lama aku tidak kesini...” “penyakit ini sudah tak bisa kuajak berkompromi, dan keluargakupun tak mau mengerti aku...aku hanya ingin bertemu denganmu Ivy, mungkin disaat-saat terakhir hidupku...aku hanya ingin kau mengetahui satu hal, aku selalu menyayangimu, melebihi siapapun, walaupun kedengarannya ini aneh...” Aku menahan air mataku yang mulai membasahi kelopak mataku, tak kusangka perasaanku selama ini bisa terbalas ‘aku juga menyayangimu,, aku sangat mencintaimu kalau kau tahu, sedari dulu...’ ‘tapi kurasa kau tak akan mengerti apa yang kusampaikan ini....iya kan???’ “jangan berkata begitu, siapa bilang aku tidak paham, aku sangat mengerti, terimakasih ya....untuk selama ini....” Lalu dia ambruk, air mataku tak terbendung lagi, aku menangis sejadinya. Beberapa orang langsung mengerumuni kami, mereka terlihat panik, aku tahu aku tak akan lagi melihat senyumannya, sebagian dari mereka berbicara soal mobil jenazah, dan membawanya pergi, aku hendak berteriak memanggilnya, aku ingin bersamanya, tapi tak ada yang kudengar selain lolongan piluku...

0 komentar:

Post a Comment